Kamis, 02 November 2017

A Head Full of Story


Laura
Aku memang penggemar berat Coldplay sejak dulu sayangnya jika menunggu Coldplay menggelar konser di Jakarta entah sampai kapan. Jadi, ketika world tournya 2016 ini ada yang di Melbourne aku cepat-cepat membeli tiket konser bahkan sebelum tahu akan pergi dengan siapa dan menginap di hotel mana atau mau kesana pakai apa. Satu tiket terkantongi, pikirku pergi sendiri tidak masalah toh aku sudah biasa perjalanan dinas sendiri Jakarta-Singapura, Jakarta-Jepang, you name it.
Aku tiba di Melbourne satu minggu sebelum konser, memutuskan untuk mengambil cuti dan “lari” dari rutinitas sebentar. Kemudian, memesan kamar lewat airbnb karena tidak ingin merepotkan siapapun yang aku kenal di sana. Juga karena aku ingin menikmati waktu sendiri dan Melbourne terlihat ramah untuk seorang pendatang.
But apparently going to a concert alone is a whole different story. Berdiri sendiri diantara ribuan orang tanpa satu orang pun mengenalimu serasa melepaskan semua embel-embel yang kamu bawa bersamamu sepanjang hidupmu. Seperti kata seseorang yang aku temui di pesawat seminggu yang lalu bahwa you don’t need to define who you are in front of people because they don’t care. Mendengar percakapan ribuan orang dalam bahasa yang tidak familiar di telinga that’s a whole different story.
So, let me tell you mine, aku sudah berada di sekitar Etihad Stadium berjam-jam sebelum konsernya dimulai, menghabiskan waktu di Woolshed memandangi orang-orang yang niat mendirikan tenda di sekitar Stadium hanya untuk mendapatkan posisi terbaik saat konser. Konser Coldplay memang selalu luar biasa, bukan hanya dari segi performa bandnya tapi bahkan secara visual, their concert is always visually pleasing, tidak pernah mengecewakan.  
Dibuka dengan lagu sesuai judul konsernya A Head Full of Dreams aku ikut melompat-lompat bersama dengan ribuan orang lainnya. Gelang LED ditanganku menyala-nyala sesuai lagu yang dibawakan. Jangan ditanya seperti apa aura Chris Martin diatas sana karena aku sendiri tidak bisa menjelaskannya. We did nothing but singing and screaming and dancing.
Berjam-jam setelahnya, Chris Martin naik ke atas panggung tanpa diikuti seluruh anggota band-nya hanya dia dan grand piano diatas panggung. Dia menyayikan lagunya dari albumnya yang terdahulu The Scientist bersama penonton konser lainnya tapi entah mengapa aku hanya bisa berdiri disana tidak merasakan orang-orang disekitarku, membeku lalu merasakan ada air mata mengalir begitu saja saat mendengarnya menyanyikan lagu itu. I’m crying alone in the middle of concert for no reason.

Adji
Sudah lama gue memperhatikan dia yang ikut heboh berjingkrak-jingkrak dengan penonton lainnya. She looks happy dan membuat gue akhirnya menekan shutter kamera tanpa ijin. Gue bukan stalker tapi melihat seseorang begitu bahagia kadang membuat lo ikut tersenyum, right?
Kalau ditanya siapa dia, gue akan jawab namanya Laura. Kerja dan tinggal di Jakarta. Ke Melbourne sendirian katanya hanya untuk liburan. Bukan gue bukan maniak pemburu orang.
Gue ketemu Laura di penerbangan menuju Melbourne satu minggu yang lalu. Dia duduk tepat disebelah gue. Gue tahu perjalanan Jakarta ke Melbourne akan menjadi perjalanan yang tidak singkat jadi untuk mengurangi kecanggungan akhirnya gue mengajaknya ngobrol.
Business or pleasure?” Tanya gue sebasi itu.
Dia menengok, mematikan apapun yang saat itu sedang dia tonton di pesawat, “Pleasure,” katanya sambil tersenyum.
Dan semudah itu pula kami memulai obrolan tentang banyak hal. Biasanya, yang duduk disamping gue kalau bukan bapak-bapak, ibu-ibu yang hampir selalu berusaha menjodohkan gue dengan anaknya. Jadi saat gue bertemu dia, I know it’s gonna be a whole different journey.
“Ke Melbourne sama siapa, Ra?”
“Sendirian aja sih gue. Mumpung bisa ambil cuti. Lo sama siapa, Ji?”
“Gue bertiga sama temen-temen tapi mereka udah berangkat duluan. Jadilah gue ditinggal sendiri.”
“Kerja dimana, Ra? I don’t mean to be rude. Kalo ga dijawab nggak apa-apa, Ra,” kata gue sebelum dikira lancang nanya-nanya personal stuff.
“Di Chevron, Ji. Di kantornya aja tapi nggak di offshore. Lo sendiri?”
“Gue? Gue kesana-kesini, Ra. Kalau ada yang minta difoto ya gue datang. Life story of tukang foto.”
“Lo fotografer?”
No, I don’t call myself that. Lebih enak kalo jadi orang itu nggak perlu mendefinisikan dirinya siapa, Ra. Lo nggak perlu mendefiniskan diri bahwa gue anaknya pak ini yang punya perusahaan itu jadi lo harus manggil gue dengan sebutan begini. Sebutan-sebutan itu yang akhirnya justru membatasi ruang gerak lo buat jadi diri lo yang sebenarnya, Ra.
“Emang lo anaknya siapa, Ji?” tanyanya dengan muka polos yang benar-benar membuat gue kehilangan kata-kata.
Gue akhirnya hanya bisa tertawa dan membuatnya semakin bingung, “Ih kok ketawa, gue nanya beneran.”
“Laura, itu cuman permisalan.”
Yang gue sesali dari hari itu adalah ketika akhirnya pesawat itu mendarat and we said goodbye, gue lupa untuk meminta nomornya. Mungkin dia pikir gue brengsek setelah obrolan panjang Jakarta-Melbourne gue pergi begitu saja seakan-akan tidak berarti apa-apa.
Tapi kemudian gue melihat dia lagi di pintu masuk Etihad Stadium. Masih sendirian seperti sengaja ingin menikmati semuanya hanya dengan dirinya sendiri. Jadi gue diam saja tidak berusaha menyapanya.
Berjam-jam setelah A Head Full of Dreams, Yellow dan lagu lainnya, gue sedang tidak sengaja menengok saat melihatnya menangis di tengah Konser Coldplay malam itu. Kami sama-sama di Arena 3, gue berdiri hanya beberapa meter jauhnya dari dia, tapi saat itu gue tidak tahu kemana pikirannya pergi. Melihatnya begitu hancur malam itu satu-satunya hal yang ingin gue lakukan hanyalah menghampirinya dan menemaninya. Tapi tidak gue lakukan.
Setelah konser selesai gue berpamitan dengan teman-teman gue dan memutuskan untuk mencari Laura. Gue menemukannya di luar Etihad Stadium sedang berjalan menuju Southern Cross Station.
“Ra, Laura!”
Dia berhenti melangkah dan menengok. Matanya menemukan gue yang berlari mengejar dia.

Laura
“Ra, Laura!”
Aku secara spontan menoleh ke belakang. Kemudian aku melihatnya berlari ke arahku. Mukanya memerah bekas berlari, tapi dia tersenyum.
“Hai,” katanya.
And here comes another story and another problem berbentuk seorang manusia bernama Adji.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar