Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Januari 2020

A Head Full of Stories #3


Laura
5 tahun kemudian
They say constantly thinking about what ifs kills you. Aku tahu bermain-main dengan kemungkinan tidak merubah apa-apa. Seperti aku tahu mempertanyakan keputusan-keputusan yang telah ku ambil sebelumnya tidak akan mengubah apa-apa. But here I am, this stubborn pathetic bitch and I’m referring to myself, silently sitting on my flat veranda and it’s 5.00 in the morning, feeling this cold morning wind, Bocelli my dear Bocelli serenading me in my ear. Whilst my head is screaming thousands of what ifs and those are all about you.
Bagaimana jika aku tidak pernah bertemu di pesawat denganmu hari itu. Bagaimana jika aku memilih untuk tidak memberikan nomor telponku. Bagaimana jika aku tidak mengiyakan puluhan ajakanmu mencari kopi yang cukup nikmat menurutmu sebagai pecinta zat adiktif itu. We were just two naïve people afterwards. Or I am.
And it’s this what if specifically yang kadang tiba-tiba muncul saat aku duduk sendirian di salah satu kedai kopi kecil di Bintaro, a place where we did our little ritual, what if I said yes when you asked me? Would we still be together or would we break up long ago over those souvenirs or catering or table setting? Would we have kids or would it be just two of us for a long time?
Hi babe, what time is it? Ngapain duduk bengong di situ?” Arya terbangun merasakan aku yang tidak ada di sampingnya.
“5.15,” aku berjalan menghampirinya, mengelus rambutnya pelan, tangannya menangkap tanganku dan mengecupnya sekali,”just go back to sleep, okay? Aku butuh ke kamar mandi sebentar.”
Okay fine.”
Aku sampai di kantor lebih siang daripada biasanya. Teh hangat buatan Mbak Yuni sudah mengepul di kubikelku. Tiara yang biasanya masih belum terlihat, hari ini sudah duduk manis menyesap kopi buatan Mbak Yuni di kubikelnya yang terletak tepat di sebelahku.
                “Good morning, Ra,” sapanya kelewat ceria. Padahal hari ini hari Senin.
                “Morning, Ti. Udah sarapan lo?” tanyaku khawatir melihatnya meminum kopi pagi-pagi.
                “Udah dong. Tadi titip Mbak Yuni buat beliin bubur ayam. Tumben sih lo jam segini baru sampai kantor?”
                Aku hanya mengangkat bahu. “Jangan suka minum kopi kalau belum sarapan, Ti. Kasian lambung lo.”
                “Iya, Laura. Apaan sih bawel, kayak emak-emak,” katanya memprotes. Dia menarik kursinya mendekatiku. “Lo nggak apa-apa?”             
                “Emang kenapa? Ada lipstik di bibir gue ya?” tanyaku berusaha bercanda.
                “Tau deh. Males gue kalo lo sok-sok nggak mau cerita gini.”
                “Ntar deh, Ti. Gue juga males pagi-pagi cerita beginian, ngerusak suasana.”
                “Yaudah, pokoknya gue selalu available kapanpun lo siap cerita, ya,” katanya sambil mnearik kurisnya menjauh.
                “Kerja, Za. Makan gaji buta banget sih, lo.” Tiara sudah merepet sejak tadi melihat Reza yang menggunakan komputernya untuk mencari menu-menu makan siang.
                “Gue kerja kali, Ti. Ini Cuma buat penyemangat aja,” balas Reza.
                “Mau makan apa sih lo? Ribet banget kataknya daritadi,” tanyaku.
                “Bingung nih gue. Besok gue anniversary sama Tina. Mau cari tempat makan yang decent buat dinner.”
                “Bilangnya buat dinner tapi nyarinya menu makan siang,” Tiara masih merepet.
                “Hehehe, biar satu dua pulau terlampaui, Ti. Sekalian”
                “Udah dinner di gultik aja, romantis, ada live music lagi.”
                “Sialan lo, Ra.”
                “Udah ah yuk, keluar cari makan, gue laper, atau kalian mau nitip sama Mbak Yuni aja?”
                “Canteen aja yuk. Lo tadi belum jadi cerita sama gue. Gue tagih ya,” Tiara mengingatkanku.
                “Iya udah, yuk.”
                Sepuluh meniti kemudian kami sudah duduk dan memesan makanan di Canteen Pacific Place.
                “Jadi kenapa lo tadi pagi sampai kantor lebih siang dari gue, Ra?” tanya Tiara di sela-sela  kunyahan fish and chipsnya.
                “Kesiangan gue bangunnya, mana hujan lagi macet dimana-mana,” jawabku seadanya.
                “Tapi lo nggak pernah kesiangan, Ra.”
                “Kesel gue kalau lo kenal gue banget gini.”
                See, you better start telling me the truth.”
                Aku menghela nafas. Terlalu lelah untuk menjelaskan semuanya pada Tiara, tapi Tiara dan Reza adalah saksi hubunganku dulu dengan Adji. Mereka juga saksi hubungan yang sedang ku jalani sekarang dengan Arya.
                “Lo punya obsesi sama orang-orang yang punya awalan A ya, Ra?” tanya Reza saat pertama kali tahu aku menjalin hubungan dengan Arya. Teman sekantor kami yang hanya beda lantai.
                “Enggak lah, aneh-aneh aja, lo,” jawabku saat itu. Aku sadar dan tahu betul alasanku dulu mau menjalin hubungan lebih jauh dengan Arya. Selain bulu matanya yang begitu lentik, yaitu karena Arya sangat mirip dengan Adji. Tapi itu dulu, sebelum aku mengenal Arya seperti sekarang. Di tahun kedua aku menjalin hubungan dengan Arya, aku sadar Arya adalah seluruh kontradiksi yang dimiliki Adji.
                Adji adalah tipe laki-laki yang membuatmu mempertanyakan semua keputusan yang pernah kamu ambil. Adji membuatmu merasa tertantang, membuatmu ingin menjalani hidup sepenuhnya. Sedangkan, Arya adalah tipe laki-laki yang membuatmu merasa aman, meyakinkanmu bahwa semuanya akan baik-baik saja dan bahwa semua berjalan tepat pada waktunya. Arya seperti minggu pagi.
                “Terus kenapa lo mau sama Arya?” tanya Tiara waktu itu.
                “Karena Arya itu kayak minggu pagi buat gue.”
                “Hah? Maksudnya?”
                “Iya. Gue butuh Arya seperti gue butuh minggu pagi. Setelah gue capek kerja dari Senin sampai Jumat. Setelah semua rutinitas yang mengurasi emosi juga fisik. Gue butuh waktu buat wind down. Sesuatu yang bikin gue merasa damai, nggak perlu mengejar sesuatu. Nggak perlu harus cepat-cepat ke kantor, nggak perlu bangun pagi. He makes me feel at ease and I  know that I need someone like him in my life,” aku menatap quinoa bowl di depanku.
                Mereka berdua menatapku seperti kehilangan kata-kata. “Whoa, girl. You’re whipped,” kata Reza setelah menemukan suaranya kembali.
                Aku hanya tersenyum. Sama seperti aku saat ini. Aku tersenyum lalu menatap mereka bergantian yang sudah menungguku bercerita.
                “Kemarin gue dapat kiriman undangan pernikahan Adji sama Wina,” jelasku akhirnya.
                Reza yang baru mengunyah grilled chicken parmesan tersedak dan mengambil es teh manis di depannya.
                “Serius lo, Ra? Dia masih berani kirim undangan?” tanya Reza setelah batuknya mereda.
                “Lo mau datang?” tanya Tiara hati-hati.
                “Gue nggak tahu, Ti.”
                “Arya bilang apa?”
                Aku terdiam.
                “Lo belum cerita sama Arya?” tanyanya lagi.
                Aku hanya menggeleng. “Gue nggak tahu harus bilang gimana. Tadi pagi gue kebangun gara-gara mimpi Adji. Gue bilang ke Arya buat balik tidur lagi, tapi gue nggak bisa balik tidur.”
                “Terus lo kesiangan karena apa?”
                “Gue nyetir muter-muter. Gue butuh menghilangkan Adji.”
                “Ra, gue boleh ngomong nggak?” kata Reza ikut angkat bicara.
                Aku hanya mengangguk.
                What you had with Adji was epic. I know that. Tapi apakah itu semua bisa mengalahkan apa yang sudah lo miliki dengan Arya? Gue tahu Adji membuat lho lebih hidup karena gue juga bisa melihat itu. Gue juga bisa bahwa lo sangat bahagia dengan Arya, mungkin lo nggak bisa lihat tapi lo glowing with happiness. You’re finally happy, Ra, for the past two years, and you deserve that. Apa lo siap membuang itu semua demi Adji yang udah mau married sama orang lain?”
                Aku tertawa lemah. “Gue nggak bodoh kok, Za. Gue tahu perasaan gue nggak karuan gini bukan karena gue masih berharap sama Adji, tapi karena…” aku terdiam sebentar, “karena apa gue nggak tahu pasti. Tapi lo tahu kan, orang nggak mungkin sepenuhnya bisa lupa, apalagi sama orang yang udah pernah bikin lo bahagia sebahagianya dan sedih sesedihnya. Tapi bukan berarti gue mau untuk mengulangi dan kembali ke masa-masa itu.”
                Good. Because you look happy, Ra. We don’t want you to lose that, okay?” katanya lagi.
                “But you have to tell Arya, okay? Gue yakin dia bisa menghilangkan kekhawatiran dan keraguan lo yang nggak berdasar ini,” kata Tiara.
                “Iya, bawel. Udah ah yuk balik.”
                “Laura dipeluk-peluk sama dielus-elus dikit juga pasti langsung nempel sama Arya lagi.”
                “Sialan ya.”
                Saat kami kembali dari Canteen, Arya sudah duduk di mejaku. Ketorpak di depannya dibiarkan begitu saja. Dia melepaskan pandangan dari Iphone-nya ketika mendengar langkah kaki kami mendekat.
                “Hai, Za, Ti. Udah selesai makan siangnya?” tanyanya.
                “Udah. Kemana aja, bro? Tumben nggak ikutan,” Reza duduk kembali ke kubikelnya yang terletak tepat di belakangku.
                “Ada deadline gue tadi.”              
                “Dimakan dulu dong, Ya, ketopraknya. Keburu lembek nanti,” kataku sambil menarik kursi kosong di dekat pantry.
                “Sengaja nungguin kamu balik. Temenin aku makan ya?” katanya manja.             
                Aku duduk di sampingnya. Arya selalu makan seperti anak kecil yang baru pertama kali mencoba makanan, full of wonders dan selalu terlihat excited.
                “Kamu mau?” tanyanya melihatku mengamatinya.
                Aku menggeleng, “Enggak, udah kenyang.”
                “Langit dan bumi banget ya. Kamu makan di Canteen, aku makan ketoprak lima belas ribuan,” katanya sambil tertawa.
                “Iyadeh, iya. Bilang aja aku boros,” kataku bercanda.
                Arya tertawa dan sedikit tersedak, “Ra, tolong ambilin air dong.”
                “Helpless banget ya kamu kalau aku nggak ada,” kataku sambil berdiri.
                “Iya, Ra. Makanya nikah sama aku yuk?” katanya sudah berdiri di belakangku.
                Aku berbalik, mencari kesungguhan di mata Arya, “Ini beneran?” dia mengangguk. “Disini banget?” tanyaku lagi masih tidak tahu harus menjawab apa.
                Tiara, Reza dan teman-temanku satu lantai sudah berdiri heboh meneriakkan, “Yes!”
                “Sebenarnya udah disiapin daritadi, Ra. Tapi kamunya udah keburu pergi, terus aku laper banget jadi yaudah makan dulu. Hehe,” katanya salah tingkah, membuatku ingin menciumnya, “So?” Arya mengeluarkan kotak kecil Pandora, “Will you give me the honor to marry you?”
                Yes, of course, yes,” kataku akhirnya, menghapuskan seluruh keraguan yang baru saja ku miliki.
Adji
                Pernikahan gue dan Wina bisa dibilang cukup cepat. Gue kenal Wina separuh hidup gue. Wina adalah salah satu teman masa kecil gue yang tidak hilang ditelan waktu dan kesibukan. Dia adalah teman gue semasa SMP di Jogja. Tidak sengaja bertemu lagi ketika gue sedang melakukan pemotretan salah satu artis yang menggunakan jasa manajemennya. Walaupun jarang bertemu, Wina adalah sahabat yang selalu ada buat gue, tempat gue menceritakan kebusukan dan kebodohan gue, dia juga saksi pertengkaran gue dengan bokap hingga akhirnya gue pergi dari rumah dan saksi betapa hancurnya gue ketika gue putus dengan Laura. Gue tidak pernah menyangka akhirnya gue luluh dengan kenyamanan yang selama ini diberikan Wina.
                Enam bulan yang lalu, gue dan Wina memutuskan untuk membawa hubungan kita ke arah yang lebih serius. Tiga bulan kemudian, gue melamarnya. Hanya disaksikan oleh teman-teman gue yang saat itu ikut melakukan photo session dengan model dari manajemen Wina. Dua minggu sebelumnya, gue terbang ke Jogja tanpa sepengetahuan Wina untuk meminta izin kepada ayahnya.
                Saat akhirnya gue memutuskan melamarnya, gue tahu bahwa apapun yang terjadi Wina akan selalu memahami gue. In the ways, that even Laura can’t. Mungkin karena seperti pekerja kantor pada umumnya, Laura cenderung bekerja dengan jam yang tetap dan jadwal libur yang pasti. Sementara gue, sebagai freelancer tidak pernah dikekang waktu, dan Wina memahami itu. Hal-hal yang dulu pernah gue ributkan dengan Laura, yang akhirnya membawa akhir ke hubungan kami, tidak pernah pernah menjadi masalah bagi gue dan Wina.
                Laura bagi gue adalah sosok yang membutuhkan gue, membuat gue merasa perlu melindunginya. Bukan karena Laura terlalu rapuh tapi Laura membuat gue merasa harus selalu memperjuangkannya. Gue tidak pernah yakin bisa benar-benar memenangkannya. Berhubungan dengan Laura seperti kecanduan. The high is very high and the low is too low. Sementara Wina membuat gue nyaman dengan diri gue sendiri. Gue tidak perlu terus-terusan membuktikan diri bahwa gue layak untuknya. Wina membuat gue merasa cukup. Berhubungan dengan Wina terasa stabil.
                Gue tidak pernah tahu apa alasan pasti gue berhenti berhubungan dengan Laura. Setelah pertengkaran 2 tahun yang lalu, yang gue tahu gue telah menyakitinya dengan kebodohan gue sendiri. We’re just kind a drifted apart after that, somehow. Kita terlalu egois dan keras kepala untuk saling memperjuangkan satu sama lain. Hingga pada suatu saat kita berhenti berbicara dan tidak pernah lagi mencoba. Namun, menuliskan namanya di daftar tamu undangan kami terasa begitu surreal.
                Dalam tiga tahun hubungan gue dan Laura, pernah dalam suatu titik gue merasa she’s the one. Gue pernah membayangkan namanya bersanding dengan nama gue, dan nama orang tuanya bersanding dengan orang tua gue. Gue pernah membayangkan menuliskan daftar nama tamu undangan kami, teman-teman kantornya dan teman-teman gue. Gue nggak pernah membayangkan nama orang lain yang akhirnya bersanding dengan nama gue di undangan itu.
                Setelah satu setengah tahun gue berusaha memberikan jarak dan waktu untuk Laura, tangan gue kembali mengetik pesan untuknya.
                Adji: Ra, for all the pain I’ve caused you, I’m sorry.
                Sent.


Sabtu, 03 Maret 2018

A Head Full of Stories#2



A Head Full of Stories
Adji
Gue berhenti tepat di depannya dengan napas terengah-engah, menarik dan menghembuskan napas berkali-kali untuk menghilangkan detak jantung yang tidak karuan yang gue tahu bukan karena bekas berlari.
“Hai,” akhirnya gue menemukan suara.
Dia menatap gue bingung, bukan tatapan bingung “lo siapa?” tapi tatapan bingung “kok lo ada disini?” namun sedetik kemudian dia tersenyum dan membalas, “Hai, Ji.”
“Sama siapa, Ra?” pertanyaan yang sama seperti saat di pesawat keluar dari mulut gue begitu saja, yang kemudian gue sesali. Damn, Ji nggak ada pertanyaan yang lebih basi?
“Sendirian aja kok gue. Temen-temen lo mana, Ji?” tanyanya sambil menengok jam tangan
“Oh mereka lagi ambil mobil kayaknya tadi gue lihat lo makanya gue samperin dulu.”
Dia melirik jam tangannya, lagi dan mukanya terlihat gelisah, “Lo nggak apa-apa, Ra?”
Sorry, Ji. But I really have to go, kereta terakhir sebentar lagi.” Katanya
“Bareng gue aja, Ra?” cetus gue spontan
“Eh nggak usah, nggak enak sama temen-temen lo,” jawabnya enggan.
Gue tahu dia akan menolak, setiap cewek seperti dia akan menolak. Siapa juga yang tiba-tiba mau diantar oleh lelaki yang baru dikenalnya selama 8 jam. Ralat tiga laki-laki. Jadi akhirnya gue hanya mengangguk dan menyerahkan handphone ke arahnya.
If you don’t mind,” kata gue ragu.
Laura
                Tangannya mengulur ke arahku dengan sebuah telepon genggam, “If you don’t mind,” katanya.
                Saat ini adalah saat yang paling tepat untuk mundur dan menolak dengan halus bahwa nomor lokalku tidak aku hidupkan saat disini. Bisa saja dengan beribu lainnya dan Adji akan menerimanya. Aku bisa memutuskan segala sesuatu yang berhubungan dengannya sebelum bahkan sempat dimulai. Kita akan menjadi dua orang asing yang tidak pernah bertemu sebelumnya dan dia hanya akan menjadi nama yang ku kenal di pesawat seperti orang-orang lain yang pernah ku temui. He’ll just be gone and we’ll never cross each other’s path ever again.
                Namun, memikirkan kemungkinan itu membuatku sedikit merasa tidak rela. Akhirnya tanganku bergerak maju menerima telepon genggam dari tangannya dan menuliskan sederet nomor yang ku hafal di luar kepala.
                “Ji! Come on,” kata dua orang laki-laki yang tiba di depanku dengan sebuah jip terbuka. Mata mereka menyipit penuh tanya.
                Guys, kenalin ini Laura,” kata Adji
                Mereka hanya melambaikan tangan sambil tersenyum penuh arti. “Come on,” kata salah satu dari mereka lagi.
                I’ll be in touch,” dia tersenyum sambil naik ke atas jip.
                Aku masih berdiri di luar stasiun saat panggilan kereta terakhir berbunyi, menyadari keputusan yang ku ambil dan mempertanyakan apakah itu keputusan yang tepat. Beberapa detik setelahnya aku mulai berlari menuju ke dalam stasiun.
Adji
                Gue menyukai langit, lengkap dengan konstelasi yang tergambar di dalamnya. Gue masih ingat Adji kecil yang lebih suka duduk di teras depan rumah memandangi langit malam dibanding melihat acara televisi sabtu malam yang menarik bagi anak-anak. Rumah gue di Jogja yang dekat dengan laut membuat gue selalu menyempatkan waktu main ke pantai saat bulan purnama. Melihat cahaya keperakan yang terpantul di air, memotretnya dengan kamera analog hadiah dari Bapak. Sounds cheesy, right? Tapi, masa-masa itulah yang menjadi awal perkenalan gue dengan fotografi. Setelahnya, gue makin suka memfoto apapun yang menurut gue menarik: cahaya matahari disela-sela pohon, rumput-rumput liar, jangkrik. Obsesi Adji kecil terhadap langit terpendam begitu saja tergantikan oleh hobinya yang baru. Hobi ini yang akhirnya membuat gue meninggalkan kuliah di jurusan manajemen dan nekat menentang Bapak.
                Namun, melihat matanya malam ini mengingatkan gue tentang obsesi Adji kecil, keinginannya untuk berkeliling ke tempat-tempat minim polusi cahaya, just because. Mimpinya yang sampai saat ini tersisihkan menunggu untuk ditemukan. Some people say, “You only need one person to remind you who you are.” Dan gue tahu tanpa perlu bertanya, she did it, and that’s why I can’t let her go, not again.
Laura
                Sesampainya aku di rumah ada sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal. Adji, “Coffee?  With me?”
“Besok udah harus balik ke Jakarta. Di Jakarta kalau gitu? On me?” balasku
Tidak sampai dua menit, satu pesan masuk dari nomor yang sama, hanya satu kata, tegas dan afirmatif “Oke.”

Kamis, 02 November 2017

A Head Full of Story


Laura
Aku memang penggemar berat Coldplay sejak dulu sayangnya jika menunggu Coldplay menggelar konser di Jakarta entah sampai kapan. Jadi, ketika world tournya 2016 ini ada yang di Melbourne aku cepat-cepat membeli tiket konser bahkan sebelum tahu akan pergi dengan siapa dan menginap di hotel mana atau mau kesana pakai apa. Satu tiket terkantongi, pikirku pergi sendiri tidak masalah toh aku sudah biasa perjalanan dinas sendiri Jakarta-Singapura, Jakarta-Jepang, you name it.
Aku tiba di Melbourne satu minggu sebelum konser, memutuskan untuk mengambil cuti dan “lari” dari rutinitas sebentar. Kemudian, memesan kamar lewat airbnb karena tidak ingin merepotkan siapapun yang aku kenal di sana. Juga karena aku ingin menikmati waktu sendiri dan Melbourne terlihat ramah untuk seorang pendatang.
But apparently going to a concert alone is a whole different story. Berdiri sendiri diantara ribuan orang tanpa satu orang pun mengenalimu serasa melepaskan semua embel-embel yang kamu bawa bersamamu sepanjang hidupmu. Seperti kata seseorang yang aku temui di pesawat seminggu yang lalu bahwa you don’t need to define who you are in front of people because they don’t care. Mendengar percakapan ribuan orang dalam bahasa yang tidak familiar di telinga that’s a whole different story.
So, let me tell you mine, aku sudah berada di sekitar Etihad Stadium berjam-jam sebelum konsernya dimulai, menghabiskan waktu di Woolshed memandangi orang-orang yang niat mendirikan tenda di sekitar Stadium hanya untuk mendapatkan posisi terbaik saat konser. Konser Coldplay memang selalu luar biasa, bukan hanya dari segi performa bandnya tapi bahkan secara visual, their concert is always visually pleasing, tidak pernah mengecewakan.  
Dibuka dengan lagu sesuai judul konsernya A Head Full of Dreams aku ikut melompat-lompat bersama dengan ribuan orang lainnya. Gelang LED ditanganku menyala-nyala sesuai lagu yang dibawakan. Jangan ditanya seperti apa aura Chris Martin diatas sana karena aku sendiri tidak bisa menjelaskannya. We did nothing but singing and screaming and dancing.
Berjam-jam setelahnya, Chris Martin naik ke atas panggung tanpa diikuti seluruh anggota band-nya hanya dia dan grand piano diatas panggung. Dia menyayikan lagunya dari albumnya yang terdahulu The Scientist bersama penonton konser lainnya tapi entah mengapa aku hanya bisa berdiri disana tidak merasakan orang-orang disekitarku, membeku lalu merasakan ada air mata mengalir begitu saja saat mendengarnya menyanyikan lagu itu. I’m crying alone in the middle of concert for no reason.

Adji
Sudah lama gue memperhatikan dia yang ikut heboh berjingkrak-jingkrak dengan penonton lainnya. She looks happy dan membuat gue akhirnya menekan shutter kamera tanpa ijin. Gue bukan stalker tapi melihat seseorang begitu bahagia kadang membuat lo ikut tersenyum, right?
Kalau ditanya siapa dia, gue akan jawab namanya Laura. Kerja dan tinggal di Jakarta. Ke Melbourne sendirian katanya hanya untuk liburan. Bukan gue bukan maniak pemburu orang.
Gue ketemu Laura di penerbangan menuju Melbourne satu minggu yang lalu. Dia duduk tepat disebelah gue. Gue tahu perjalanan Jakarta ke Melbourne akan menjadi perjalanan yang tidak singkat jadi untuk mengurangi kecanggungan akhirnya gue mengajaknya ngobrol.
Business or pleasure?” Tanya gue sebasi itu.
Dia menengok, mematikan apapun yang saat itu sedang dia tonton di pesawat, “Pleasure,” katanya sambil tersenyum.
Dan semudah itu pula kami memulai obrolan tentang banyak hal. Biasanya, yang duduk disamping gue kalau bukan bapak-bapak, ibu-ibu yang hampir selalu berusaha menjodohkan gue dengan anaknya. Jadi saat gue bertemu dia, I know it’s gonna be a whole different journey.
“Ke Melbourne sama siapa, Ra?”
“Sendirian aja sih gue. Mumpung bisa ambil cuti. Lo sama siapa, Ji?”
“Gue bertiga sama temen-temen tapi mereka udah berangkat duluan. Jadilah gue ditinggal sendiri.”
“Kerja dimana, Ra? I don’t mean to be rude. Kalo ga dijawab nggak apa-apa, Ra,” kata gue sebelum dikira lancang nanya-nanya personal stuff.
“Di Chevron, Ji. Di kantornya aja tapi nggak di offshore. Lo sendiri?”
“Gue? Gue kesana-kesini, Ra. Kalau ada yang minta difoto ya gue datang. Life story of tukang foto.”
“Lo fotografer?”
No, I don’t call myself that. Lebih enak kalo jadi orang itu nggak perlu mendefinisikan dirinya siapa, Ra. Lo nggak perlu mendefiniskan diri bahwa gue anaknya pak ini yang punya perusahaan itu jadi lo harus manggil gue dengan sebutan begini. Sebutan-sebutan itu yang akhirnya justru membatasi ruang gerak lo buat jadi diri lo yang sebenarnya, Ra.
“Emang lo anaknya siapa, Ji?” tanyanya dengan muka polos yang benar-benar membuat gue kehilangan kata-kata.
Gue akhirnya hanya bisa tertawa dan membuatnya semakin bingung, “Ih kok ketawa, gue nanya beneran.”
“Laura, itu cuman permisalan.”
Yang gue sesali dari hari itu adalah ketika akhirnya pesawat itu mendarat and we said goodbye, gue lupa untuk meminta nomornya. Mungkin dia pikir gue brengsek setelah obrolan panjang Jakarta-Melbourne gue pergi begitu saja seakan-akan tidak berarti apa-apa.
Tapi kemudian gue melihat dia lagi di pintu masuk Etihad Stadium. Masih sendirian seperti sengaja ingin menikmati semuanya hanya dengan dirinya sendiri. Jadi gue diam saja tidak berusaha menyapanya.
Berjam-jam setelah A Head Full of Dreams, Yellow dan lagu lainnya, gue sedang tidak sengaja menengok saat melihatnya menangis di tengah Konser Coldplay malam itu. Kami sama-sama di Arena 3, gue berdiri hanya beberapa meter jauhnya dari dia, tapi saat itu gue tidak tahu kemana pikirannya pergi. Melihatnya begitu hancur malam itu satu-satunya hal yang ingin gue lakukan hanyalah menghampirinya dan menemaninya. Tapi tidak gue lakukan.
Setelah konser selesai gue berpamitan dengan teman-teman gue dan memutuskan untuk mencari Laura. Gue menemukannya di luar Etihad Stadium sedang berjalan menuju Southern Cross Station.
“Ra, Laura!”
Dia berhenti melangkah dan menengok. Matanya menemukan gue yang berlari mengejar dia.

Laura
“Ra, Laura!”
Aku secara spontan menoleh ke belakang. Kemudian aku melihatnya berlari ke arahku. Mukanya memerah bekas berlari, tapi dia tersenyum.
“Hai,” katanya.
And here comes another story and another problem berbentuk seorang manusia bernama Adji.


Jumat, 29 Januari 2016

SYDNEY p.4



Doni membuka pintu mobil kemudian aku dan Gina turun. Sydney sedang musim panas jadi malam ini cuaca agak gerah. Angin laut berhembus pelan membawa lengket garam. Musim panas seperti ini, pekerjaanku dan Gina sebenarnya sedang gila-gilaan karena banyak gosip dan event-event besar diadakan pada waktu ini. Tapi, kami bertiga justru berencana untuk menghabiskan malam di Watsons Bay Beach Club setelah Doni memaksa kami untuk menemaninya menikmati panasnya summer di Sydney.
                Agak susah mendapatkan meja di Watsons dan entah pesona apa yang diberikan oleh Doni akhirnya kami bertiga mendapatkan tempat duduk tepat di bawah pohon dengan pemandangan laut di depan mata. A perfect place for summer, I think. Kami menghabiskan malam dengan tiga gelas pinot noir membicarakan apapun yang menarik malam ini.
                “Udah berapa cewek sih yang jadi korban lo, Don?” tanyaku malam ini di sela tawa dan alunan musik di Watsons.
                “Udah ada kali sekampung kalo dibikin perumahan,” Gina menimpali membuat kami tertawa.
                “Sialan,” umpat Doni pura-pura kesal. “Lagian pertanyaan lo salah, Tris. Yang bener adalah berapa orang beruntung yang udah dapet pelajaran hidup dari gue.” Katanya membela diri.
                Kami tertawa.
                Aku tersentak terbangun dari mimpiku. Itu mimpi tentang kejadian empat bulan yang lalu ketika kami masih baik-baik saja dan kami bertiga seakan tidak terkalahkan. Us vs the world.  And look at us now, tidur di ruangan yang sama namun practically looks like stranger. Ruangan ini sedikit temaram, hanya ada dua buah lampu tidur di sebelah kanan dan kiri ranjang. Doni tidur di sampingku dengan posisi duduk diatas sofa, sedangkan aku meringkuk di sofa. Gina tidur bersama Candra diatas ranjang tempat Candra dirawat.
                Seminggu yang lalu, saat sedang bermain bisbol tangan Candra cidera dan harus dirawat karena mengalami keretakan. Hari itu, aku dan Gina sedang di kantor menulisi undangan yang akan mulai disebar. Dan dengan paniknya Gina langsung bergegas menuju rumah sakit.
                “Tris, what if it’s a sign? Gimana kalau ini sebuah kesalahan? Gimana kalau ini pertanda gue sama Candra nggak harusnya menikah?” dan racauan lainnya yang aku dengar selama di perjalanan.
                “Gin, Gin. Calm down, okay. It’s gonna be fine, okay. Tarik nafas. Listen to me, tarik nafas.” Kataku siang itu.
                Dan sore tadi ketika aku menjenguk Candra dan berencana menemani Gina tidur di sini malam ini, Doni dengan entengnya menawarkan diri untuk menemaniku tidur di sini. Aku sudah menolaknya dengan berbagai alasan tapi tak berhasil. Jadi, akhirnya aku biarkan dia tidur di sini. Kami tidak banyak bicara, Doni lebih sering bicara dengan Gina atau Candra tapi tidak denganku.
                Aku bangkit dari sofa berencana keluar dari ruangan ini, mencari udara segar Sydney di musim gugur. Ada sebuah balkon kecil di dekat ruang rawat Candra, aku hanya berdiam di sana mengamati jalanan Sydney di bawahku yang tidak pernah sepi bahkan di waktu seperti ini.
                “Tris,” panggil seseorang dari belakangku.
                Aku menengok, hafal dengan suara orang yang memanggilku. “Hei, Don.”
                “Nggak bisa tidur?” tebaknya
                “Nggak, tadi kebangun aja. Lagi cari udara segar.”
                Dia tertawa. “Sydney has no fresh air, you know that.
                Giliran aku yang tertawa. Dia benar.
Sydney tidak jauh berbeda dengan Jakarta, kota metropolitan ini memang tidak pernah sepi. There are always lives beating in this city. Meskipun banyak taman kota yang dibangun disini, tapi tidak pernah bisa membuat udara di Sydney menjadi bersih apalagi segar.
“Tapi, kadang keramaian adalah hal yang dibutuhkan oleh orang-orang yang ingin membunuh sepi, Tris.” Katanya merenung.
Aku hanya memandanginya. “Yeah, walaupun kadang sepi yang disini,” kataku menunjuk hati, “stay no matter how loud the city is.
Kami berdua sama-sama terdiam.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Pada tahun 2005, Frank Warren mendirikan sebuah komunitas dimana setiap orang dapat mengirimkan surat secara anonim dalam sebuah postcard. Surat tersebut dapat berisi apa saja, tidak ada larangan dalam konten surat yang mereka kirimkan. Aturannya hanya dua: jujur dan belum pernah diceritakan kepada orang lain. Surat-surat tersebut kemudian akan dipilih dan diposkan dalam blog PostSecret.
Aku sendiri terkadang membuka PostSecret saat keadaan di kantor sedang tidak terlalu sibuk. Dua minggu yang lalu aku menemukan sebuah surat yang diposting oleh Warren dalam blognya, postcard itu bergambar daisy dengan tulisan tersebar di seluruh halamannya berbunyi, “When I pick daisy petals, I always say: He loves me, he loves me, he loves me. Because I’m too afraid of risking the other option.”
Dua minggu berlalu dan kata-kata itu masih berhasil menamparku hingga sekarang. Kenapa? Karena itulah yang selalu aku lakukan setiap kali aku bertemu dengan Arga selama tiga bulan terakhir hubungan kami. Every time I see him, I convinced myself that he loves me. Hal itulah yang menjaga pikiranku tetap waras saat aku berkali-kali melihat Arga keluar bersama sekertarisnya.
Arga memang masih perhatian denganku, masih sering menjemputku ketika lembur, dan menghabiskan waktu denganku ketika weekend. Kami sering hanya duduk diam berdua menonton DVD dengan semangkuk popcorn di apartemennya ketika weekend dan kami malas pergi kemana-mana. Sometimes, words doesn’t matter, but the presence of ourselves. Tapi, pagi itu dua minggu yang lalu, aku sedang bersama Doni keluar membeli sarapan, setelah semalaman menunggu Candra. Kami berdua melihat Arga keluar dari mobilnya, membukakan pintu lalu seorang wanita muda berusia sekitar 24 tahun keluar dari mobilnya, aku mengenalnya dengan baik, wanita itu adalah Vivian sekertarisnya di kantor.
Doni yang pertama kali melihatnya, lalu berlari kearah Arga dan menghujamkan tinju tepat di rahang sebelah kanannya. Arga hanya terenyak kemudian berusaha berdiri kembali sementara kami berdua, aku dan Vivian, hanya bisa menjerit histeris. Sampai akhirnya, aku meminta Doni untuk berhenti.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Warren telah menerbitkan buku yang berisi surat-surat yang dikirimkan kepadanya melalui PostSecret. Dalam bukunya, Warren selalu menyelipkan sebuah cerita rahasia yang sengaja ia bagikan kepada publik. Warren pernah berkata dalam bukunya yang berjudul My Secret, “Sometimes when we think we are keeping a secret, that secret is actually keeping us.
Doni tidak pernah tahu bagaimana keretakan hubunganku dengan Arga. Aku menyimpannya untuk diriku sendiri. Gina juga tidak tahu tentang hal ini. Aku tidak berniat memberitahu Gina yang sedang hectic dengan berbagai urusan pernikahan dan keadaan Chandra yang cidera. It’s his second chances and he already failed twice.
Aku menemui Arga dua hari setelah insiden kejadian itu, dia baik-baik saja meskipun lebam masih terlihat di dekat rahangnya. Dia terkejut melihatku mampir di kantornya.
“Hi.” Sapaku, “How’s your wound?” tanyaku sedikit khawatir. Aku membenci diriku sendiri yang masih khawatir.
“Nggak apa-apa. Bentar lagi juga hilang. Tris, let me explain it to you,” katanya berusaha menjelaskan sebelum aku menyuruhnya diam.
“Nggak usah, Ga. Nggak perlu,” kataku sedatar mungkin, “Maybe we just not meant to be together. I should know better that we won’t work. Kita sudah mencobanya sekali dan gagal kan, Ga. And it’s the second time we failed. Aku nggak mau ada yang ketiga, Ga.” Kataku tegas.
“Tris, you have to trust me, please.”
Trust is earned. And I don’t see you try. So let’s just stop trying, Ga. Okay?
Itulah terakhir kalinya aku berbicara dengan Arga sebelum akhirnya bertemu lagi dengannya hari ini. Hari ini adalah hari pernikahan Gina dan meskipun tangan Candra memang belum sepenuhnya tetapi mereka berdua terlihat bahagia. They look perfectly happy. Pernikahan Gina didominasi dekorasi berwarna mint dan ivory terlihat segar berpadu dengan cuaca Sydney yang cerah namun tidak terik sore ini.
“Nih, gue ambilin minum buat lo.” Doni mengangsurkan sebuah gelas berisi soda dan segelas champagne untuknya.
“Thanks, Don. Sendirian aja lo?”
“Nggak, kan berdua sama lo, Tris. Lagian gue kan udah insyaf,” katanya acuh.
Aku hampir tersedak. “Ya, ya, ya. Look who's talking. Lo pikir gue nggak lihat daritadi lo flirting sama cewek sana sini..”
“Sialan,” katanya kemudian tertawa.
Gina tersenyum diatas kursinya melambaikan tangan ke arahku. Sedangkan Candra disampingnya mengecup puncak kepala Gina dan tersenyum bahagia. Aku dan Doni sama-sama melambaikan tangan.
They do look great together, don’t they?”
Yeah, they are.” Kataku tersenyum
We do look great together, don’t you think?”
Aku hanya tertawa sebelum menjawab, “You wish.”
Saat aku melihat kembali kearah Gina dan Candra, mataku menemukan Arga datang bersama Vivian bersalaman dengan Gina dan Candra dan berjalan ke arahku dan Doni. Saat melihatku, Arga hanya menyapa kemudian berlalu. Aku teringat sebuah line dalam salah satu episode TV series yang sering aku tonton bersama Gina, saat itu Camille sedang berbicara dengan Marcel mengenai Klaus setelah menghabiskan malam bersama Marcel kemudian Camille berkata, “Maybe it’s better to move forward instead of holding on things we can’t change.”
Untuk Cami, Klaus is the thing she can’t change. Just like, Arga, for me. In the end, I understand somebody is never gonna change from the way they are.
You’re okay, right, Tris?” Tanya Doni setelah Arga berlalu, suaranya khawatir.
I’m okay. Don’t worry about me. We’re like friends now.”
                Di salah satu edisi PostSecret, ada sebuah kartu pos dengan foto siluet dua orang yang sedang berdiri di dalam kolam renang di atasnya terdapat tulisan dengan huruf kecil: “The funny thing is, nobody ever really knows how much anybody else is hurting. We could be standing next to somebody who is completely broken and we wouldn’t even know it.”
                Yang tidak Doni tahu adalah bahwa aku adalah seorang wanita yang sudah rusak dan aku sendiri tidak tahu apakah masih bisa diperbaiki atau tidak.
                “Tris, I know this maybe too soon. But, I want to be with you. We’ll take it slow, you can take all the time you need. I don’t care, but let me be with you.” Katanya, matanya menatapku mantap.
                “Don, I’m broken.” Kataku lemah.
                “I will fix you. You can take all the time in the world, Tris.”
                Aku tidak menjawab, you know what, Don, it’s hard for me to trust someone all over again. In the end, you can’t trust someone it’s only yourself.
                “Dance with me?” katanya mengalihkan pembicaraan saat aku tidak kunjung menjawabnya.
                Aku tertawa. “You’re joking, I can’t dance.”
                Oh, you can. Because your partner is professional dancer,” katanya.
                Aku tertawa lagi. Dan dia benar, dia benar-benar mahir menari berbeda denganku yang hanya mengikuti gerakan kakinya. Aku meletakkan kepala di pundaknya, menikmati bunyi nafasnya yang teratur.
                You, know that I love you, right?” tanyanya ketika musik hampir berhenti, dia memutarku wajahku menghadap matanya.
                I know,” kataku.
                Dia tertawa. Tawanya ringan, tidak seperti orang sedang tercekik atau tersendat kehabisan nafas. In fact, he has nice laughs. And one thing I realize: he’s growing on me.
-----------------------THE END